Thursday, November 1, 2012

PEMIKIRAN EKONOMI IBNU TAIMIYAH


PEMIKIRAN EKONOMI IBNU TAIMIYAH

RIWAYAT HIDUP
Bernama lengkap Taqiyuddin Ahmad Bin Abdul Halim. Lahir di kota Harran tanggal 22 Januari 1263 M (10 Rabiul Awal 661 H). Ayah, paman, dan kakeknya ulama besar Mazhab Hambali dan penulis sejumlah buku. Dalam usia muda beliau mampu menamatkan sejumlah pelajaran seperti : tafsir, hadits, fiqih matematika, dan filsafat. Umur 17 tahun, diberi kepercayaan oleh salah satu guru beliau, Syamsuddin Al-Maqdiri, untuk mengeluarkan fatwa. Sebagian orang merasa iri terhadapnya dan berusaha untuk menjatuhkan dirinya, karena beliau mendapatkan penghormatan yang begitu besar dari masyarakat dan juga pemerintah. Sempat menjalani masa tahanan sebanyak empat kali akibat fitnah para penentangnya. Selama dalam tahanan beliau tidak pernah berhenti untuk menulis, ketika sang penguasa mengambil pena dan kertasnya, beliau tetap menulis menggunakan batu arang. Meninggal dunia di dalam tahanan pada tanggal 26 September 1328 M (20 Dzulqaidah 728 H).

PEMIKIRAN EKONOMI
Harga Yang Adil
Harga yang setara merupakan harga yang adil. Harga yang setara merupakan harga standar yang berlaku ketika masyarakat menjual barang2 dagangannya dan secara umum dapat diterima sebagai suatu yang setara bagi barang-barang tersebut. Harga yang setara dibentuk oleh kekuatan permintaan dan penawaran serta dipengaruhi oleh kebutuhan dan keinginan masyarakat.
Laba yang adil adalah laba normal yang secara umum biperoleh dari perdagangan tertentu tanpa merugikan orang lain. Yaitu dangan memanfaatkan ketidak pedulian masyarakat dengan kondisi pasar karena sagat membutuhkan barang tersebut.

Upah Yang Adil
Upah yang setara ditentukan oleh upah yang diketahui (disetujui), yang menjadi acuan bagi kedua belah pihak. Upah yang setara diatur dengan menggunakan mekanisme yang sama dengan harga yang setara, yaitu ditentukan oleh tawar menawar antara pekerja dan pemberi kerja.

Mekanisme Pasar
Harga ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran. Besar kecilnya perubahan harga tergantung pada besar kecilnya perubahan permintan & penawaran.

Regulasi Harga
Tujuan dari regulasi harga adalah untuk menegakkan keadilan dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Ibnu taimiyah melarang pemaksaan terhadap seseorang untuk menjual dagangannya tanpa alasan yang cukup. Dalam keadaan darurat seperti terjadi bencana kelaparan pemerintah disarankan melakukan penetapan harga dan memaksa pedagang untuk menjual barang kebutuhan dasar dengan harga yang adil. Beliau Juga melarang diskriminasi harga terhadap pembeli atau penjual yang tidak mengetahui harga yang sebenarnya di pasar. Ibnu Taimiyah menentang praktik monopoli, menentukan harga barang dengan harga tinggi sesuai kehendak sendiri. Mengenakan harga yang sangat tinggi kepada seseorang yag tidak mengetahui harga yang sebenarnya adalah riba (ghaban al-mustarsil riba)

Uang dan Kebijakan Moneter
Ibnu Taimiyah menyebutkan secara khusus dua fungsi utama uang yaitu sebagai pengukur nilai dan media pertukaran bagi sejumlah barang yang berbeda. Beliau menentang keras segala bentuk perdagangan uang karena tidak sesuai dengan fungsi uang. Seharusnya penguasa mencetak mata uang sesuai dengan nilai rilnya tanpa bertujuan untuk mencari untung. Ia juga menyarankan agar penguasa tidak membatalkan masa berlaku suatu mata uang yang berada di tangan masyarakat. Ia juga menyatakan bahwa penciptaan mata uang dengan nilai nominal lebih besar dari pada nilai intrinsik akan menyebabkan terjadinya penurunan nilai mata uang serta menghasilkan inflasi dan pemalsuan mata uang.


Masyarakat Madani


MASYARAKAT MADANI

Masyarakat Madani pada mulanya merupakan sebuah konsep pemikiran filsafat berkenaan dengan system kenegaraan. Konsep kenegaraan ini dimaksudkan untuk menggambarkan kerajaan kota dan bentuk korporasi lainnya sebagai suatu kesatuan yang terorganisir.


Tuesday, October 30, 2012

Zakat Profesi


ZAKAT PROFESI

Belakangan ini pekerjaan/profesi menjadi sumber pendapatan yang utama bagi masyarakat. Pekerjaan/ profesi ada dua jenis. Yang pertama yaitu pekerjaan yang murni dari hasil sendiri tanpa bergantung kepada orang lain, karena keahlian tangan atupun otak. Penghasilan yang diperoleh dari jenis ini disebut penghasilan professional, seperti penghasilan seorang dokter, konsultan, pengacara, seniman, dll. Yang kedua yaitu penghasilan yang diperoleh dari pihak lain yang berupa gaji atau honor, seperti Karyawan, PNS, dll.


Monday, October 29, 2012

SEMUA TERJADI KARNA SUATU ALASAN

SEMUA TERJADI KARNA SUATU ALASAN

Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah.

Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi , latihan ketangkasan , percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa. Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih orang lain yaitu Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku?
Bagian diriku yang mana yang kurang?Mengapa aku diperlakukan kejam ?
Aku berpaling pada ayahku. Katanya: “Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku: “Semua terjadi karena suatu alasan.” Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang….

Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.


Tuhan mengabulkan doa kita dengan 3 cara:

Apabila Tuhan mengatakan YA. Maka kita akan mendapatkan apa yang kita minta.
Apabila Tuhan mengatakan TIDAK. Maka mungkin kita akan mendapatkan yang lain yang lebih sesuai untuk kita.
Apabila Tuhan mengatakan TUNGGU. Maka mungkin kita akan mendapatkan yang terbaik sesuai dengan kehendakNYA


KISAH SEORANG PEMBURU

KISAH SEORANG PEMBURU

Suatu hari si Udin berencana akan pergi berburu di hutan dekat tempat tinggalnya. Udin pun mempersiapkan segala peralatan berburu yang akan dibawanya esok, tak lupa ia membawa senapan, tombak, parang serta perangkap binatang. Malam itu udin membayangkan tentang binatang buruan yang akan didapatkannya esok, ”besok aku pasti akan menangkap rusa yang besar” kata si Udin. Tak sabar rasanya ia menunggu pagi datang dan segera memulai perburuan.
Keesokan harinya Udin dengan segala perlengkapan berburu yang telah disiapkannya berangkat ke hutan dekat tempat tinggalnya untuk memulai perburuan. Setibanya disana ia segera memasang perangkap binatang di tempat-tempat yang sering dilalui binatang,, kemudian ia pun mencari tempat persembunyian yang strategis untuk mengintai buruannya..
Tidak lama kemudian hinggaplah seekor burung tepat di atas tempat persembunyian si Udin. Mestinya burung tersebut dapat dengan mudah ditangkapnya,, namun Udin berfikiran lain,, ”Ah... Itu hanya seekor burung kecil,, nanti kalau aku menangkap rusa yang besar burung itu tidak akan ada yang memakannya..” kata udin dalam hatinya. Ia pun membiarkan burung tersebut pergi.
Setelah sekian lama menunggu, dari kejauhan udin mendengar suara ”jeritan” binatang, akhirnya perangkap yang ia pasang berhasil menjerat binatang buruan. Dengan bergegas udin pun berlari menuju lokasi perangkapnya. Sesampainya disana betapa kecewanya udin melihat  Perangkapnya tersebut hanya berhasil menjerat seekor anak babi hutan yang masih kecil. ”Sial... cuma seekor anak babi.. Membawanya malah akan membuat repot saja. Nanti kalau aku menangkap rusa yang besar babi ini akan terbuang sia-sia dan tidak ada yang memakannya..” Udin pun melepaskan begitu saja anak babi tersebut. Ia pun kembali ke tempat persembunyian untuk mengintai buruannya...
Waktupun berlalu, tak terasa hari sudah hampir sore, namun ia belum juga mendapatkan binatang buruan yang di idam-idamkannya, iapun mulai lelah dan akhirnya tertidur. Setelah beberapa lama tertidur, dengan samar-samar ia mendengar suara langkah kaki melintas di sampingnya, kemudian ia merasakan ada sesuatu yang menginjak kakinya.. Karena terkejut iapun terbangun dan melihat sesuatu yang menginjak kakinya tersebut, dengan samar-samar terlihat bayangan sesosok mahluk, semakin lama terlihat semakin jelas.. Dan ketika dia dapat melihat dengan jelas ternyata yang menginjak kakinya tersebut adalah seekor rusa besar. Karena terkejut ia pun berteriak ”RUSA....!!!” lantas ia segera bangun dan mengambil senapannya. Namun apa yang terjadi,....... rusa tersebut terlebih dahulu berlari dan bersembunyi karena teriakannya tadi, ia pun kembali gagal mendapatkan buruan.
Hari sudah mulai gelap, akhirnya udin pun pulang dengan tangan hampa tanpa memperoleh seekor buruanpun...

Moral Cerita :
Pada dasarnya kehidupan manusia mirip seperti aktifitas perburuan. Sebelum memulainya tentunya haruslah mempersiapkan segala peralatan perburuan. Demikian juga dengan kehidupan, manusia tentunya harus memiliki bekal (alat) keahlian/keterampilan (life skill) untuk menjelajahi rimba kehidupan. Coba bayangkan saja jika kita harus berburu di tengah hutan belantara hanya dengan bermodal tangan kosong...?? betapa sulitnya bukan..??
Disamping itu kita juga harus jeli melihat peluang yang ada di sekitar kita. Dan jangan pernah menyia-nyiakan peluang yang ada walau sekecil apapun. Karena kita tidak pernah tahu ketika peluang besar datang, apakah kita benar-benar siap untuk menangkapnya. Maka dari itu jangan pernah meremehkan hal yang kelihatannya kecil/sepele.. Jika kita telah membiasakan diri untuk menangkap peluang-peluang kecil, maka kita akan terlatih untuk menangkap peluang yang lebih besar ketika ia datang...

Mulailah Dari Hal Yang Terkecil.......
Mulailah Dari Diri Sendiri........ 
Mulailah Dari Sekarang........


Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI)

PEMBAJAKAN HKI DALAM PANDANGAN ISLAM

Pembahasan tentang pembajakan terhadap hak kekayaan intelektual (HKI) di Indonesia sesungguhnya pambahasan yang masih baru dikancah hukum, baik hukum positif apalagi hukum Islam. Pembajakan perangkat lunak, patent, lisensi, dan lain-lain merupakan salah satu masalah yang sering menjadi perdebatan. Apakah pembajakan terhadap apa yang sekarang ini disebut sebagai 'Intellectual Property Rights' (IPR) merupakan tindak pidana pencurian di dalam hukum Islam?


Sunday, October 28, 2012

Gagal Menikah


Tersebutlah seorang perjaka gagah bernama Astar hendak menikah dengan gadis pujaannya Maisy. Kedua sejoli ini sudah menjadi ikon lelaki dan wanita idaman di Desa SEmbrodo. Astar berniat merencanakan pernikahan terbesar sepanjang sejarah di kampungnya dengan perayaan 6 hari 6 malam menghabiskan 7 kerbau sembelihan (rekor sebelumnya dipegang Paluy dengan menyembelih 6 Kerbau).

Pernikahan dirancang jauh-jauh hari dengan mempersiapkan segala tetekbengek persiapan. Dari rancangan pakaian pernikahan, undangan, jenis makanan dan panitia pernikahan. Pakaian yang akan digunakan di pernikahan merupakan rancangan desainer yang membuat pakaian Kades ketika dilantik. Makanan resepsi dipesan dari Mbok Atik, penjual kue combro paling lezat di pasar inpres kampung. Panitia disusun berdasarkan komposisi keluarga dan profesional yang merupakan representasi dari petani, buruh dan peternak. Segala persiapan sudah dihitung dengan matang 2 bulan menjelang hari H.


Undangan dibuat oleh percetakan terkemuka di seluruh kecamatan antah berantah dengan berhiaskan tulisan tinta emas. Dibuat oleh seorang yang berpengalaman membuat sablon-sablon dan umbul-umbul perayaan yang melebelkan dirinya dengan Dartok Design mantan seroang Joki (penunggang kuda) handal waktu mudanya.

Dua hari menjelang hari H, terjadi kehebohan luar biasa atas “pernikahan abad ini” di Kecamatan Sembrodo. Pihak mempelai wanita membatalkan secara sepihak pernikahan agung tersebut. Berita ini mendatangkan rasa heran di kalangan masyarakat dan menjadi gosip terhangat di pasar serta memunculkan spekulasi yang bermacam-macam. Gosip tak sedap melanda kedua keluarga yang akan berbesanan. Ada isu miring bahwa si Astar sudah nikah di desa lain, adapula yang mengatakan si Maisy sudah ketahuan hamil duluan. Banyaknya kabar tak sedap membuat pihak wanita perlu memberikan konfrensi pers dengan memanggil biang gosip desa dan wartawan mading desa guna memberikan penjelasan duduk perkara alasan gagalnya pernikahan.

Dari hasil klarifikasi tersebut ditemukan fakta pihak mempelai perempuan keberatan dengan undangan pernikahan yang telah tersebar. Di bagian bawah undangan terjadi kesalahan cetak, tulisan yang biasanya tertulis Turut Mengundang tidak tertulis sebagaimana lazimnya tetapi berganti menjadi “TURUT MENUNGGANG”. Celakanya yang turut menunggang dituliskan sebanyak 5 orang dan lebih mengerikan lagi diantara yang turut menunggang ada yang sudah Almarhum.  Ha… ha… ha… mana tahan………



Saturday, November 5, 2011

ALARM DIRI


Ketika seseorang ditanya apakah mencuri, menipu, merampok, korupsi, menganiaya dan mendzolimi orang lain itu salah? Yakinlah semua akan menjawab : ya..! Lantas bagaimanakah seseorang dapat mengetahui bahwa perbuatan tersebut adalah salah meskipun tidak ada seorangpun yang dengan sengaja menanamkan dalam benak kita bahwa perbuatan tersebut salah. Akan tetapi hampir semua orang tahu betul bahwa perbuatan tersebut salah tak peduli apakah ia tahu dalilnya dalam agama atau tidak, bahkan tak peduli apapun Agama yang ia anut.
Lalu bagaimana carakita mengetahui yang benar dan yang salah. Bisakah kita mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk tanpa melalui Al-Qur’an dan Hadits Nabi.?? Jawabannya : Bisa..!
Allah SWT telah menciptakan suatu perangkat canggih dalam diri manusia yang berfungsi sebagai alat detektor kabaikan dan keburukan selain melalui ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Perangkat canggih tersebut biasa di sebut NURANI.
Seterbatas apapun ilmu kita, sedangkal apapun pengetahuan kita mengenai agama, semua itu tidak bisa menjadi alasan bagi kita untuk berbuat keburukan. Nurani akan selalu membimbing manusia dalam perjalanan hidupnya, dan hanya akan mengarah kepada hal-hal yang baik. Nurani akan memberikan sinyal ketidak tentraman di jiwa ketika ada keburukan mendekat. Nurani akan memberikan sinyal ketentraman di jiwa ketika ada kebaikan yang didapat.
“Mintalah fatwa kepada hatimu kebaikan itu adalah apa-apa yang tentram jiwa padanya, dan tentram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa, dan ragu-ragu dalam hati, meski orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkanmu.” (H.R Muslim)
Mari jadikan nurani sebagai penasehat abadi. Ketika menghadapi keadaan yang butuh kejernihan pikiran, tanyakan pada nurani, kemudian pilih mana yang membuat jiwa kita tenang, itulah pilihan yang tepat. Itulah Kebenaran.
“Ketika Kita Akan Berlaku Salah, Nuranilah Yang Pertama Kali Berteriak Histeris Dan Sepontan Mengatakan Kepada Kita : ‘Jangan Lakukan..! Itu Perbuatan Buruk..!’”


"Takdir Gundulmu"

“TAKDIR GUNDULMU”

Pada suatu malam seorang santri di sebuah pesantren menyelinap keluar dari asramanya. Dengan langkah kaki yang berhati-hati ia segera menuju rumah ustadznya yang tidaki jauh dari pesantren. Namun ia bukannya akan menemui sang ustadz melainkan ia menuju pekarangan belakang rumah pak ustadz. Disana terdapat pohon mangga yang sedang berbuah sangat lebat. Dengan hati-hati ia segera memanjat pohon tersebut dan  memetik buah mangga satu persatu dan dimasukkan ke dalam karung yang telah ia persiapkan sampai karung tersebut terisi penuh. Kemudian ia turun dan menuju kamar pesantrennya. Sesampainya disana ia segera membagi-bagikan mangga curiannya tersebut kepada teman-temannya.
Keesokan harinya tanpa kesulitan sang ustadz dapat mengetahui siapa pelaku pencurian mangga di halaman rumahnya, rupanya beberapa santri yang tidak kebagian mangga melaporkan kepada sang ustadz siapa yang telah mencuri mangganya tersebut.
Si pelaku pun langsung diinterogasi oleh sang ustadz...
“Kenapa kamu mencuri..?” Tanya sang Ustadz.
Dengen entengnya santri itu menjawab “Sudah Takdir Ustadz...!”
“Takdir gundulmu”
Ustadz itupun menjewer telinga santrinya, hingga kepala sang santri muter-muter mengikuti arah jeweran.
Aduh, Sakit Ustadz. Kok saya di jewer sih, saya mencuri kan sudah Takdir Allah.. Jadi kalau Ustadz menghukum saya berarti ustadz menentang Takdir Allah...!”
Sang Ustadz dengan enteng menjawab, “Loh.. Jeweran ini kan juga Takdir Allah..!”

I’tibar
Konsep takdir seringkali difahami sebagai kepasrahan membabi buta bahwa segala sesuatu telah ditentukan oleh allah SWT. Jika hal tersebut yang terjadi maka akan seperti cerita diatas, segala kesalahan ia timpakan kepada allah.
Pemaknaan takdir seperti itu menjadikan sebahagian kita benar-benar pasif dalam menjalani kehidupan. Seolah pikiran telah terpola dengan kalimat, “Semua telah ditetapkan, Segala sesuatu telah di gariskan, Semua sudah ditakdirkan oleh Allah, Untuk apalagi saya berusaha terlalu keras, kalau Allah telah menakdirkan saya sukses, nanti datang juga kesuksesan itu dengan sendirinya..”
Kehidupan bukanlah sesuatu pemberian tuhan yang harus kita terima apa adanya (pasrah). Namun sebaliknya, sebagai mahluk yang merdeka, akan selalu ada ruang bagi manusia untuk menjatuhkan pilihannya. Kehidupan manusia sangat mungkin beralih dari takdir yang satu kepada takdir yang lain, tergantung kepada ikhtiar kita.
Bukankah Allah telah berfirman :“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum hingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Q.S Ar : Rad : 11)
Dengan demikian pilihan/ikhtiar kitalah yang menentukan apakah kita akan menjadi orang baik atau buruk, sukses atau gagal, kaya atau miskin... dlsb...
Maka dari itu tentukan takdirmu sendiri mulai dari sekarang...

“Tidak Ada Takdir Tanpa Adanya Ikhtiar”
By : Saiful Amiq (Ketum HMI Kom. Syari’ah Demisioner 2010-2011)



Friday, September 23, 2011

IKHTIAR DAN TAKDIR (ANTARA KETETAPAN TUHAN DAN PILIHAN BEBAS MANUSIA)

ANTARA KETETAPAN TUHAN DAN KEHENDAK BEBAS MANUSIA
Oleh : Saiful Amiq (Ketum HMI Kom. Syari’ah 2010-2011)

Manusia merupakan puncak dari penciptaan Tuhan dan mahluk-Nya yang paling sempurna. Untuk itu manusia mengemban amanah sebagai khalifah dimuka bumi untuk mengelolanya. Manusia sepenuhnya bertanggungjawab atas segala aktifitas yang ia lakukan dimyuka bumi.
Secara asasi manusia merupakan mahluk merdeka. Merdeka dalam artian ia bebas melakukan pilihan-pilihan terhadap segala hal yang kemudian akan ia pertanggungjawabkan. Karena indifidu adalah penanggungjawab mutlak atas perbuatannya, maka kemerdekaan pribadi adalah haknya yang asasi. Adalah suatu hal yang aneh ketika manusia diharuskan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang dilakukannya atas dasar paksaan, bukan karena kehendak bebasnya.
Dalam Islam (Rukun Iman) mengenal adanya konsep Qadha dan Qadar (Takdir Ilahi). Seringkali konsep ini dipahami bahwa segala hal yang berkaitan dengan manusia adalah hak perogratif Tuhan dan telah ditentukan sebelumnya, termasuk didalamnya segala perbuatan manusia, rizki, jodoh, bahkan permasalahan apakah ia penghuni surga atau neraka.
Jika demikian maka kemerdekaan manusia telah dinafikan, maka untuk apa lagi manusia harus berikhtiar. Dan pantaskah mahluk yang tidak memiliki kemerdekaan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang dilakukan atas dasar ”keterpaksaan”..?? lalu dimana letak keadilan Tuhan..?
Kata Qadha dan Qadar secara lughawi memiliki beberapa pengertian, diantaranya ; Kata Qadha dapat bermakna ”Hukum/ Keputusan” (Q.S An-Nisaa : 65), Qadha dapat bermakna ”Kehendak” (Q.S Ali Imron : 47). Kata Qadar bermakna ”Ukuran” (Q.S Al-Hijr : 21), Qadar dapat dipahami sebagai ukuran sesuatu/ menjadikan sesuatu pada ukuran tertentu/ menciptakan sesuatu dengan ukurannya yang ditentukan.
Maka yang dimaksud dengan Qadar (Takdir) Ilahi adalah bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu serta telah menentukan/ menetapkan kadar dan ukurannya masing-masing dari segi kualitas, kuantitas, ruang dan waktu. Dan hal tersebut dapat terwujud dalam rangkaian sebab-sebab/ syarat. Sedangkan Qadha Ilahi adalah sampainya sesuatu kepada kepastian akan wujudnya setelah terpenuhinya sebab-sebab/ syarat sesuatu tersebut. Berdasarkan pengertian ini maka tahapan Qadar adalah lebih awal daripada tahapan Qadha, dan Qadha ini adalah akibat dari adanya qadar, maka Qadha akan mengalami perbedaan hasil ppada suatu peristiwa yang sama apabila terdapat perbedaan pada proses pemenuhan terhadap Qadar...
Untuk lebih memudahkan dalam memahami, berikut analoginya... :
Air akan membeku apabila didinginkan pada suhu 0o C. Maka untuk menjadikan air tersebut beku (Qadha), maka harus didinginkan pada suhu 0o C (Qadar/ pemenuhan sebab), dan ketika suhu tersebut tidak tercapai maka air tidak akan membeku (Qadha).
Untuk itu sebagai mahluk yang merdeka, manusia bebas menentukan takdir pribadinya melalui jalan berikhtiar melakukan pemenuhan rangkaian sebab-sebab/ syarat terhadap sesuatu yang dikehendakinya. Dan hasil dari Ikhtiar inilah yang kemudian di sebut sebagai Takdir.
Sekalipun kebebasan merupakan esensi dari Manusia, namun bukan berarti ia merdeka atas segala tindakannya. Kebebasan manusia tetap harus tunduk kepada hukum-hukum unifersal Tuhan. Dan hukum-hukum ini tentunya memiliki konsekuensi logis terhadap pelakunya.
Amal perbuatan manusia yang baik ketika didunia akan membawanya menuju surga. Amal perbuatan manusia yang buruk ketika didunia akan membawanya menuju neraka. Kerja keras dan sungguh-sungguh akan membawa manusia kepada keberhasilan, dan sebaliknya.
Setiap kegagalan yang dialami manusia, bukanlah berarti bahwa Tuhan telah mentakdirkan ia untuk gagal, namun kurang sempurnanya ikhtiar yang ia lakukanlah yang membawanya kepada kegagalan. Karena Tuhan tidak memutuskan takdir manusia berdasarkan kehendak mutlanya, namun Tuhan memutuskan takdir manusia berdasarkan sejauhmana manusia melakukan Ikhtiar untuk Takdir yang diinginkannya.
”Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum hingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Q.S Ar Rad : 11)